Bandung, 17 April 2018 — Akhir-akhir ini kita dikejutkan kembali dengan maraknya peredaran miras oplosan di wilayah Jawa Barat terutama di Kota Bandung, Kab Bandung dan Kab Sukabumi yang banyak menelan korban. Data terakhir dari Kepolisian Daerah Jawa Barat sampai 15 april 2018 tercatat 61 orang meninggal sia-sia setelah mengkonsumsi minuman keras oplosan. Workshop ini awalnya diinisiasi oleh Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah dan Direktur RS. Muhammadiyah Bandung dr. Hj. Tety H. Rahim Sp.THT-KL., M.Kes., MH.Kes., sebagai komitmen muhammadiyah dan rumah sakit terhadap kemanusian juga kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya RS. Muhammadiyah Bandung bekerjasama dengan Medecins Sans Frontieres (MSF) international melaksanakan workshop penanganan keracunan metanol pada pasien korban miras oplosan. Acara workshop ini sendiri, di ikuti oleh dokter dan perawat di lingkungan RS. Muhamamdiyah Bandung.

Dalam sambutannya, Wakil Direktur Pelayanan Medik RS. Muhamamdiyah Bandung dr.H.  Hamdan, MM. menyampaikan “Terimakasih kepada Tim Dokter Lintas Batas (MSF) yang bersedia menyampaikan informasi sekaligus juga shering pengalamannya kepada karyawan RS. Muhammadiyah Bandung, mengingat kasus miras oplosan di Jawa Barat sudah menelan sekitar 61 orang, tentu membuat prihatin kita semua, pengetahuan dan informasi yang akan disampaikan oleh MSF akan sangat bermanfaat bagi karyawan kami dalam mengahadapi kasus keracunan methanol pada pasien korban miras oplosan.”

Perwakilan MSF Mr. Knut Erik Hivda mengatakan kebahagiannya bisa bertemu kembali dengan karyawan RS. Muhammadiyah Bandung apalagi saat ini gedungnya lebih bagus. Pertemuan saat ini lebih banyak menyampaikan informasi dan pengalaman kami terkait semakin tingginya angka kematian karena keracunan miras oplosan. Kasus seperti inipun bukan hal yang baru dan tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di Negara lain, semisal Banglades, Vietnam, India dll.

Senyawa Methanol yang biasa dicampur pada minumam keras oplosan termasuk senyawa yang sangat beracun/berbahaya sehingga 30 ml saja dikonsumsi dalam tubuh kita bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia. Uniknya gejala akibat keracunan tersebut tidak akan terasa otomatis oleh pasien setelah mengkonsumsi senyawa methanol namun biasanya baru terasa 12 – 24 jam kemudian, dari mulai muntah-muntah, sesak nafas, kejang-kejang, bahkan gangguan penglihatan dsb. Pada dasarnya senyawa Methanol tidak berbahaya, namun setelah kita mengkonsumi dan masuk dalam tubuh kita, senyawa tersebut dengan bantuan enzim ADH berubah menjadi senyawa format yang tentu saja membahayakan terhadap kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian

Maka dari itu RS. Muhammadiyah Bandung mengajak kepada masyarakat agar menghindari minuman keras apapaun jenisnya, termasuk dalam hal ini mengkonsumsi miras oplosan yang sangat berbahaya terhadap kesehatan. Mari kita bersama-sama menjaga keluarga dan generasi kita dari minuman keras dan juga Narkoba.